"Panyang Umue Bahasa Aceh Loen" Upaya Mempertahankan Budaya Aceh Melalui Kebijakan Pemkot Lhokseumawe

Sumber : akurat.co

Bahasa ibu merupakan bahasa yang dapat dikatakan tanpa dipelajari pun seseorang akan mampu berkomunikasi menggunakan bahasa ibu. Karena bahasa merupakan sebuah warisan budaya yang harus dilestarikan keberadaannya (Local Wishdom).

Beberapa waktu lalu pemerintah kota Lhokseumawe membuat sebuah kebijakan yang mewajibkan setiap warga,pemerintah dan setiap institusi untuk menggunakan bahasa Aceh pada hari jumat. Bukan hanya sekedar bertutur dalam bahasa Aceh, kegiatan surat  menyurat pun wajib ditulis menggunakan bahasa Aceh. Pro dan kontra pastinya terjadi, ada yang menganggap kebijakan ini merupakan kebijakan yg tidak penting karena mengingat bahwa kota Lhokseumawe merupakan kota yang majemuk, penduduknya berasal dari suku dan daerah yang berbeda bukan sepenuhnya suku Aceh, ada suku batak, suku minang, suku batak, suku sunda, suku baduy dan lain sebagainya.

Sumber : rencongpost.com

Tetapi kembali lagi ke sebuah istilah pribahasa yang mengatakan "Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung". Bahasa merupakan sebuah alat untuk menyatukan satu individu dengan individu yang lainnya, dan satu kelompok dengan kelompok lain. Kesamaan bahasa membuat orang menjadi terikan secara emosi secara tidak langsung. Banyak orang yang menyesal tidak bisa berbahasa aceh padahal telah lama menginjakkan kaki di bumi Aceh, bahkan lahir di Aceh sekalipun. Mungkin kita sering bertemu dengan masyarakat asli aceh namun ia tidak dapat berbahasa aceh.

Setiap kebijakan yang dikeluarkan pastinya telah ditelaah dengan baik dampaknya bagi keberlangsungan hidup bermasyarakat. Bagaimana mungkin anak-anak cucu kita bisa berbahasa inggris tapi buta terhadap bahasa "Ibu Sendiri". Kearifan lokal salah satunya bahasa harus dijaga dan dijadikan bahasa sehari-hari karena betapa bangganya ketika kita mampu membuat bahasa daerah menjadi sebuah warisan yang dijunjung keberadaannya bukan malah dengan sengaja menghilangkan identitas kedaerahan tersebut dan menggantinnya dengan bahasa lain agar terlihat gaul dan terkesan internasional. Menguasai bahasa Nasional maupun Internasional itu tidak ada aturan yang melarangnya, namun ada baiknya kita juga dapat menguasai bahasa daerah sendiri yang sudah diwariskan oleh nenek moyang kita.

Tidak salah sebenarnya memperluas kemampuan untuk bisa bahasa lain, apalagi bahasa inggris yang merupakan Universal Language. Bercermin dari beberapa suku yang berada di Indonesia yang tidak malu menggunakan bahasanya bahkan ketika mengunakan bahasa inggris pun logat kedaerahannya muncul tanpa disadari, nah bagaimana dengan para milenial Aceh?. Banyak sekali kasus yang bahwasanya anak aceh malas berbahasa aceh karena jika logat kedaerahannya terbawa pada saat berkomunikasi, orang aceh biasa menyebutnya "Meudok"  banyak dari anak - anak aceh dengan gamblang mengejek atau mengolok - ngoloknya. Nah, bagaimana kita mampu mempertahankan kearifan lokal yang sejak dulu lahir dibumi sendiri jika harus malu berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Betapa indah keberagaman, betapa indah pula menjunjung tinggi nilai-nilai lokal yang ada.


[10:45, 10/8/2019] Melda Safira: Memang memilih bahasa  apa yang akan dalam digunakan dalam kehidupan sehari-hari merupakan hak setiap orang. Kita bebas menggunakan bahasa apa saja yang kita anggap nyaman dan dimengerti oleh orang lain untuk memulai sebuah interaksi, tapi penggunaan bahasa utama (Bahasa ibu)  juga lebih penting. Namun kabar baiknya, kita akan mudah bertemu dengan orang-orang yang menggunakan bahasa aceh di desa-desa, dan itu bukan berarti mereka juga tidak memahami bahasa lainnya seperti bahasa nasional (Indonesia), kita akan lebih leluasa untuk berinteraksi pada mereka dengan menggunakan bahas aceh.

[10:51, 10/8/2019] Melda Safira: Memupuk pemahaman bahwa bahasa daerah haruslah dilestarikan merupakan kewajiban setiap bangsa. Karena bahasa merupakan kekayaan inmaterial yang dimiliki oleh nenek dan diwariskan kepada cucu-cucu nya yang tentu merupakan masyarakat aceh saat ini, dan bahasa daerah tidak akan punah jika masyarakat terus melestarikannya. Pengenalan bahasa ibu sejatinya bukan hanya saja melalui interaksi secara alamiah misalkan membiasakan diri berbicara bahasa daerah di lingkungan rumah tetapi, juga mempelajarinya disekolah. Pengenalan bahasa yang seperti ini sangat efektif karena anak-anak akan terpacu untuk menggunakan bahasa daerahnya dan mempelajari sastra kedaerahan yang dimilikinya. Jadi, ketika mereka dewasa dan dihadapkan oleh sebuah peraturan yang harus menggunakan bahasa daerah, mereka tidak akan berontak dan tidak menganggap ini adalah upaya yang aneh, namun sayangnya banyak juga masyarakat yang mempertimbangkan gengsinya dalam berbahasa.

[10:54, 10/8/2019] Melda Safira: Layaknya tarian daerah yang diperkenalkan dari kecil hingga dewasa, bagaimana bangganya kita ketika kita melihat tarian daerah kita mendunia yang disukai oleh banyak orang. Banyak negara yang familiar dengan salah satu tarian kesenian aceh yaitu tari Saman. Bahkan mereka khusus menginjakkan kaki ke bumi ini hanya untuk belajar gerakan demi gerakannya. Nah, bagaimana jika banyak orang yang berlomba-lomba ingin mempelajari bahasa aceh karena keunikan bahasanya, keunikan tulisannya, perbedaan cara tutur anak-anak dan orang dewasa.

Jadi kesimpulannya adalah kebijakan walikota Lhokseumawe ini memiliki dampak yang positif yaitu masyarakat akan terbiasa dengan bahasa daerah sendiri yaitu bahasa aceh, dengan demikian maka masyarakat akan terus melestarikan bahasa daerah yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya. Dengan adanya kebijakan dari Walikota Lhokseumawe ini juga akan menyadarkan masyarakat bahwa selain bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, bahas Aceh juga harus diperioritaskan sebagai upaya melestarikan bahasa daerah agar tidak punah. Jika bahasa merupakan sebuah identitas,maka jangan ragu untuk memulai mencintainya. Upaya yang dilakukan pemerintah kota lhokseumawe dapat diacungi jempol walaupun kegiatan ini belum efektif dilakukan. Tidak ada kebijakan yang tidak dipikirkan matang², pastinya kebijakan ini pun telah didiskusikan dengan berbagai pihak terkait. Kita selaku anak daerah setempat sebaiknya patuh dan tanamkan sikap positif didalam diri bahwa tidak harus mempertanyakan mengapa harus ada kebijakan "aneh" ini tapi pikirkan dampaknya dalam menjaga kearifan lokal (Local Wishdom) yang kita miliki. Semoga yang mendunia bukan hanya saman saja, tapi buatlah dunia tau bahwa terdapat bahasa dunia didalam bahasa aceh.